Turnamen Sepak Bola Antar Kampung
![]() |
| Ilustrasi Sepak Bola. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay |
“Saya bangun setiap pagi dan
berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bermain
sepak bola” -Memphis Depay
Indonesia merupakan salah satu
negara yang bisa dibilang “gila bola”. Tak terkecuali dengan kampungku, di sini
semua anak laki-laki pasti gemar bermain bola. Dalam penelitian yang dilakukan
pada tahun 2017 oleh Nielsen Sport, 77% penduduk Indonesia memiliki
ketertarikan pada olahraga si kulit bundar.
Sepak bola tidak selalu tentang
kompetisi profesional, tetapi juga ada yang namanya tarkam. Pasti kalian pernah
dengar kompetisi tarkam? Ya, tarkam adalah singkatan antar kampung. Kompetisi
tarkam sudah menjadi tradisi yang terus mengalir setiap tahun. Biasanya
turnamen tarkam diselenggarakan dalam lingkup kecamatan hingga tingkat RT.
Lahir di Kampung Pondok Benda
membuatku erat dengan yang namanya sepak bola tarkam. Secara administratif
kampung ini berada di wilayah Kota Bekasi. Letaknya di Kecamatan Jatiasih,
Kelurahan Jatirasa. Sepak bola di sini jauh dengan apa yang dinamakan
profesional, hanya sepak bola amatir yang bermain di lapangan samping jalanan.
Debutku dalam sepak bola terjadi
pada tahun 2012 pada saat itu aku duduk di bangku kelas 6 SD. Ya walaupun hanya
sekelas kompetisi tarkam, namun itu merupakan pengalaman yang cukup baik
untukku dan akan selalu ku kenang. Dengan bermodalkan latihan setiap minggu
pagi, klubku berhasil menjuarai kompetisi tersebut.
Venue yang digunakan merupakan
lapangan kebanggaan dari RT 08, yaitu Lapangan Pondasa. Bertempat di pinggir
jalan, dikelilingi pohon-pohon besar, garis lapangan tidak begitu jelas, sampai
kontur tanah yang tidak merata. Ku yakin banyak lapangan di wilayah lain yang
memiliki kesamaan dengan lapangan di sini
Ada salah satu keunikan di
Lapangan Pondasa ini, yaitu hadirnya satu pohon rambutan di dalam lapangan
tepatnya di pojok dekat titik corner. Jadi, setiap bola yang mengenai pohon
akan dianggap out. Peraturan aneh ini mungkin satu-satunya yang ada di
kampungku. Walaupun demikian, lapangan tersebut tetap menjadi kebanggaanku, dan
aku bersyukur mempunyai tempat latihan sepak bola.
Kompetisi tarkam sudah menjadi
kearifan lokal yang diselenggarakan tiap tahun. Rivalitas antar desa sangat
kental karena sudah diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya. Adu gengsi
antara desa-desa menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat. Para juragan di
desa terkadang sampai mengundang pemain liga profesional yang harganya
selangit hanya untuk bertanding di kompetisi yang hadiahnya tidak seberapa.
Salah satu kunci yang membuat
kompetisi tarkam selalu menjadi hiburan yang sangat ditunggu masyarakat kampung
adalah sistem menontonnya. Di mana masyarakat hanya datang tanpa membeli tiket
dan tinggal duduk di pinggir lapangan untuk menonton pertandingan. Bagi
masyarakat kampung, menonton langsung sepak bola profesional di stadion mungkin
sangat terkendala dengan keuangan. Jadi, salah satu alternatifnya adalah sepak
bola antar kampung.
Banyak keunikan sepak bola tarkam
yang menjadi ciri khas tarkam itu sendiri. Seperti jarak penonton dengan garis
lapangan yang tidak sampai satu meter, lapangan dengan kontur tidak merata,
tukang jajanan berjualan di pinggir lapangan, para juragan menyawer pemain saat
pemain mencetak gol dan banyak lagi yang lainnya. Hal-hal seperti ini lah yang
tidak akan kita temui di kompetisi profesional.
Kompetisi tarkam memang bukan sepak bola profesional, namun kompetisi ini selalu memberikan hal menarik yang melibatkan banyak pihak di dalamnya. Mulai dari penyelenggara, sponsor, pemain, penonton, dan tukang jualan di sekitar lapangan. Dan kuyakin tarkam akan selalu ada dan setia menjadi hiburan bagi masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun.
(Aldefa Nur Akbar/Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Tulisan ini telah dimuat di laman Kumparan

Tulisan yang penuh kenangan, membuat teringat setiap momennya. Terimakasih penulis
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung!
Hapus