Kaleidoskop Militer Dunia 2021 : Kudeta Myanmar, AS Terusir Hingga China Memanas
| Ilustrasi Pesawat Tempur (Twitter.com/zaviews) |
Selama tahun 2021 sejumlah negara mengalami konflik militer. Mulai dari meletusnya kudeta di Myanmar, beralihnya kekuasaan Afghanistan ke tangan Taliban hingga panasnya hubungan China dengan Taiwan.
Berikut ini merupakan sejumlah ketegangan militer dunia sepanjang tahun 2021.
Kudeta Militer Myanmar dan Nasib Aung San Suu Kyi
Militer melakukan kekuasaan terhadap pemerintah Myanmar pemimpin, Aung San Suu Kyi, pada 1 Februari 2021. Pemerintahan sipil dinilai telah melakukan kecurangan pada pemilihan umum dan melanggar sejumlah aturan.
Sejak kudeta terjadi, aksi protes menentang kudeta militer terjadi nyaris setiap hari di berbagai bagian Mynamar. Yang direspon militer dengan amat represif.
Menurut Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP), lebih dari 1.100 orang tewas, dan 9.000 demonstran ditangkap pasca kudeta tersebut.
Pada 1 Agustus 2021, Pemimpin Myanmar, Ming Aung Hlaing, mendeklarasikan diri menjadi perdana menteri. Dan menyatakan bahwa akan memimpin Myanmar di bawah keadaan darurat sampai pemilu pada Agustus 2023.
Sementara itu, Suu Kyi dijerat sejumlah kasus terkait tuduhan korupsi, pelanggaran undang-undang rahasia negara juga telekomunikasi, dan peraturan Covid-19.
Saat ini, baru 1 vonis yang telah dijatuhkan yakni tuduhan penghasutan dan pelanggaran UU bencana alam, dengan hukuman penjara 3 tahun.
TNI Hadang Tank Israel
Nyali besar prajurit TNI disorot oleh publik Indonesia serta dunia pada 10 Maret 2021.
Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugs Pasukan Perdamaian PBB UNIFIL menghadang 3 Tank Merkava milik Israel.
Dengan gagah berani, Prajurit TNI mencegah bentrokan senjata anatara Israel dan Lebanon di Blue Line Temporary Point (TP) 35 dan 36 lebanon Selatan.
Diketahui, kedua pihak bersitegang lantaran pembuatan jalan baru oleh Tentara Lebanon di Temporary Point (TP) 35.
Afghanistan Diambil Alih Taliban, AS Tersingkir
Kembalinya Taliban menggusur Pemerintah Afghanistan menjadi sorotan pada pertengahan 2021. Setelah 20 tahun lamanya berperang, akhirnya AS menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan.
Usai transisi dilakukan, situasi Taliban berubah drastis. Banyak orang termasuk warga Afghanistan sendiri berusaha melarikan diri dari negara itu. Apalagi Taliban terus merangsek ke ibukota, dan membuat pasukan keamanan Afghan kocar-kacir.
Sederet aksi unjuk rasa dilakukan oleh massa perempuan. Mereka mengkritik terkait masih samanya kondisi perempuan di bawah rezim Taliban lama dan Neo-Taliban.
Secara ekonomi Afghanistan semakin terpuruk semenjak era Taliban. Hanya PBB dan sedikit lembaga yang masih mau memberi bantuan dalam jumlah yang tidak signifikan.
Walaupun memberi bantuan, PBB masih enggan menerima pimpinan Taliban sebagai representasi resmi Afghanistan karena berbagai alasan. Salah satunya terkait demokrasi dan hak-hak perempuan di Negara tersebut.
Jabatan 3 Periode Picu Kudeta Guinea
Presiden Guinea, Alpha Conde, merupakan pemimpin terpilih secara demokratis pertama Negara itu. Dirinya pertama kali berkuasa pada tahun 2010. Dan terpilih kembali pada tahun 2015.
Namun, menjelang akhir masa jabatannya yang kedua, Conde secara kontroversial mengubah masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Keputusannya itu berujung pada kudeta tanggal 5 September. Militer Guinea turun mengepung istana kepresidenan.
Usai baku tembak, pemberontak menculik Conde dan membubarkan pemerintah. Pada 1 Oktober, Mamady Doumbouya dilantik sebagai presiden sementara.
Perang Azerbaijan Armenia Pecah Kembali
Azerbaijan dan Armenia kembali bergesekan di perbatasan pada 16 November 2021.
Tentu saja gejolak itu, bisa mengancam perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati usai konflik berdarah tahun 2020 lalu.
Menurut kementerian Azerbaijan, 7 warga negaranya tewas dan 10 orang lainnya luka-luka. Di sisi lain, Otoritas Armenia melaporkan bahwa 1 orang tewas, 13 tentara ditangkap dan 24 lainnya hilang.
Namun, Konflik itu segera mereda pada malam hari, usai Menteri Rusia, Sergei Shoigu, meminta kedua belah pihak tak melanjutkan konflik.
Koalisi Arab Saudi gempur Houthi di Yaman
Konflik Arab Saudi dengan separatis Houthi di Yaman terus menelan korban jiwa. PBB memperkirakan perang Yaman akan menewaskan 337 ribu jiwa pada akhir tahun 2021.
40% tewas terkena dampak langsung dan 60% tewas karena dampak tidak langsung, seperti kekurangan air bersih, kelaparan dan penyakit.
Sementara itu, kematian akibat perang yang sudah berjalan selama 7 tahun tersebut menewaskan sekitar 150 ribu orang. Bahkan, sampai saat ini situasi di Yaman masih tetap panas.
Pada 25 Desember Koalisi Arab menggempur Houti dengan meluncurkan serangan skala besar di Yaman. Aksi militer ini dilakukan setelah serangan Houthi menewaskan 2 orang di Arab Saudi.
Insiden itu merupakan kematian pertama dalam 3 tahun oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Rusia vs NATO dan AS
Pada pertengahan November, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengerahkan puluhan ribu pasukannya ke perbatasan Ukraina.
Bukan hanya melawan Ukraina, dalam hal ini Rusia ditentang oleh NATO yang didukung oleh Amerika Serikat.
Presiden AS, Joe Biden, mengatakan memberikan dukungan kepada Ukraina dan akan pasang badan bila Moskow menyerang.
Di sisi lain, Putin membantah bahwa Rusia memiliki rencana menyerang Ukraina. Putin mengaku melakukan hal tersebut untuk mendesak jaminan hukum, bahwa NATO tidak akan berekspansi lebih jauh ke Eropa Timur dan tidak menempatkan senjata maupun pasukan di sana.
Hubungan China dan Taiwan Makin Buruk
Hubungan China dan Taiwan semakin panas pada tahun 2021. Pada Oktober lalu, China mengirimkan 150 jet tempur ke zona pertahanan udara Taiwan. Hal tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah konflik keduanya.
Secara keseluruhan, Militer China telah mengirim hampir 1.000 pesawat tempur ke zona pertahanan udara Taiwan sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, Amerika Serikat diam-diam mengirim pasukan khusus untuk melatih pasukan Taiwan untuk menghadapi ancaman Beijing.
Di tengah situasi panas itu, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengatakan bahwa akan membela Taiwan jika diserang oleh China.
Taiwan yang berlindung di belakang Amerika pun membuat hubungan antara Beijing dan Washingtong semakin tegang.
(Aldefa Nur Akbar/ Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Komentar
Posting Komentar